Day 1
Belajar Bersuci di Pondok Ramadhan SMK Cendika Bangsa Kepanjen, Siswa Dalami Makna Thaharah

Kepanjen – Suasana pagi di lingkungan SMK Cendika Bangsa Kepanjen, Senin (9/3/2026). Di Mushola dan Gedung RPS, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar mengalun pelan namun penuh kekhusyukan. Para siswa duduk berkelompok, membuka Buku, mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan hari pertama yang diawali dengan membaca Al-Qur’an menggunakan metode An Nashr.

Kegiatan yang berlangsung di sekolah yang beralamat di Jalan Raya Mojosari 2A Kepanjen ini diikuti oleh seluruh siswa dengan pendampingan guru dan karyawan. Agar kegiatan berjalan lebih nyaman, pelaksanaan dibagi menjadi dua sesi.

Pagi hari diikuti oleh siswi perempuan bersama guru serta karyawan perempuan. Sementara pada siang hari, kegiatan dilanjutkan oleh siswa putra yang didampingi guru dan karyawan laki-laki.

Setelah sesi mengaji selesai, suasana kelas beralih menjadi ruang belajar yang penuh diskusi. Materi pertama Pondok Ramadhan tahun ini adalah thaharah atau bersuci, sebuah pembahasan mendasar dalam ajaran Islam yang menjadi syarat sah dalam berbagai ibadah.

 

Memahami Makna Bersuci dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam penyampaian materi dijelaskan bahwa thaharah merupakan upaya mensucikan diri dari najis dan hadas, baik hadas kecil maupun hadas besar. Bersuci menjadi hal penting sebelum melaksanakan ibadah seperti salat, tawaf, maupun menyentuh Al-Qur’an.

Para siswa diajak memahami bahwa bersuci tidak hanya sekadar membersihkan diri, tetapi juga merupakan bagian dari menjaga kesucian ibadah. Proses bersuci dapat dilakukan dengan air, debu melalui tayamum, atau batu untuk istinja’, sesuai dengan kondisi yang diatur dalam syariat.

 

Mengenal Jenis-Jenis Najis

Dalam sesi berikutnya, siswa mempelajari berbagai jenis najis yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini menjadi penting agar siswa memahami bagaimana cara mensucikannya dengan benar.

Najis pertama adalah najis mukhofafah, yaitu najis ringan yang berasal dari air kencing bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun dan hanya mengonsumsi ASI. Cara membersihkannya cukup dengan memercikkan air suci pada bagian yang terkena najis hingga basah.

Selanjutnya adalah najis mutawasithah, yaitu najis kategori sedang yang meliputi berbagai kotoran seperti air kencing, kotoran manusia atau hewan, darah, nanah, muntahan, serta cairan yang memabukkan. Untuk menyucikannya, terlebih dahulu dihilangkan wujud najis tersebut hingga hilang warna, bau, dan rasanya, kemudian dibilas dengan air suci.

Jenis terakhir adalah najis mugholladzah, yaitu najis berat yang berasal dari anjing, babi, atau turunannya. Cara menyucikannya dilakukan dengan membasuh bagian yang terkena najis sebanyak tujuh kali, dan salah satunya dicampur dengan tanah yang suci.

 

Mengenal Hadas Kecil dan Hadas Besar

Selain najis, siswa juga diajak memahami tentang hadas, yaitu kondisi tidak suci yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu.

Hadas kecil dapat terjadi karena beberapa hal, seperti keluarnya sesuatu dari kemaluan atau dubur, tidur atau pingsan, serta bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Untuk mensucikannya, seseorang cukup melakukan wudhu.

Sementara itu, hadas besar terjadi karena kondisi tertentu seperti keluarnya air mani (junub), hubungan suami istri, haid, nifas, maupun proses melahirkan. Kondisi ini disucikan dengan mandi besar atau mandi wajib.

 

Membekali Siswa dengan Dasar Ibadah

Melalui materi thaharah ini, para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama, tetapi juga memahami praktik dasar yang menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim.

Kegiatan Pondok Ramadhan di SMK Cendika Bangsa Kepanjen ini menjadi salah satu upaya sekolah untuk membangun pemahaman keagamaan sekaligus membentuk karakter religius siswa, sehingga mereka mampu menjalankan ibadah dengan benar dan penuh kesadaran.

Di tengah suasana Ramadhan, pelajaran tentang bersuci ini menjadi pengingat sederhana namun mendalam: sebelum mendekat kepada Sang Pencipta, seorang muslim diajarkan untuk terlebih dahulu membersihkan dirinya. [Niswa]

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait