Screenshot-2026-03-03-081042-1
Cerpen: “Jejak Cahaya di Pasir Angin” – Cahaya yang Mengubah Cara Bertahan

Jejak Cahaya di Pasir Angin
Penulis: Erlyta Garnis

Desa Pasir Angin tidak pernah benar-benar berubah dalam tiga puluh tahun  terakhir. Wanginya masih sama, aroma tanah kering yang terpapar matahari siang, bercampur amis garam yang dibawa angin laut, serta bau kecut keringat para kuli panggul di dermaga tua. Di desa ini, waktu seolah berhenti berputar. Bangunan sekolah di ujung jalan setapak hanyalah rumah kayu reyot yang lebih sering dikunjungi debu daripada manusia. Jika musim panen tiba, bangku-bangku kelas akan segera kosong melompong, digantikan oleh sabit di tangan anak-anak yang seharusnya memegang pensil. Bagi warga Pasir Angin, pendidikan adalah hiasan bibir yang tidak mengenyangkan perut.

“Orang yang terlalu banyak baca itu biasanya jadi penipu, atau kalau tidak, jadi gila karena mikirin hal yang nggak ada,” begitu gumam Pak Barja hampir setiap sore.

Pak Barja adalah mandor dermaga yang tangannya sekeras kayu ulin, dengan suara yang bisa mengalahkan deru ombak saat ia sedang marah. Baginya, otot adalah satu-satunya mata uang yang laku untuk bertahan hidup.

Di tengah kepalan tangan yang kasar dan sinisme yang kental itu, Laras hidup dengan tenang di sebuah rumah panggung yang menghadap ke laut. Ia adalah putri tunggal seorang guru SD yang telah wafat, mewarisi sebuah lemari jati besar berisi buku-buku yang mulai digerogoti rayap. Laras tidak pernah pergi ke kota untuk mencari kerja. Ia memilih menetap, menjaga sebuah perpustakaan kecil di teras rumahnya yang ia beri nama Rumah Cahaya. Setiap hari, ia menyeka debu dari sampul-sampul buku itu, berharap suatu saat ada tangan lain yang sudi membukanya.

Sore itu, langit Pasir Angin tampak muram. Mendung menggantung rendah di cakrawala, menelan sisa-sisa cahaya matahari. Laras sedang menyeka sampul sebuah buku peternakan lama ketika seorang remaja laki-laki bernama Bagas berdiri di depan pagarnya. Bagas adalah keponakan Pak Barja. Kulitnya legam terbakar garam laut, dan matanya selalu menunduk, seolah beban karung beras lima puluh kilogram yang ia panggul setiap hari telah mematahkan semangat hidupnya.

“Mbak Laras…” suara Bagas hampir hilang ditelan deru angin. Ia meremas pinggiran bajunya yang kusam.

Laras menghentikan kegiatannya, meletakkan lap kainnya, dan tersenyum lembut. “Masuk, Gas. Tumben sore-sore ke sini. Ada yang bisa Mbak bantu?”

Bagas ragu-ragu melangkah masuk ke teras. Ia menatap deretan buku di rak dengan pandangan asing, seolah benda-benda itu adalah artefak dari planet lain.

“Mbak… apa di dalam kotak-kotak kertas ini ada buku tentang cara bicara?”

Laras mengerutkan dahinya, mencoba menangkap maksud remaja itu. “Cara bicara dengan siapa, Gas? Teman? Atau mungkin kamu lagi naksir seseorang?”

Bagas menggeleng lesu, matanya mulai berkaca-kaca. “Cara bicara dengan orang yang punya kertas, Mbak. Kemarin, Paman Barja tanda tangan kertas di dermaga. Katanya itu surat kerja baru dari perusahaan kota. Tapi hari ini, semua kuli diusir. Mandor kota bilang, di kertas itu tertulis bahwa kami setuju buat berhenti kerja tanpa pesangon karena dermaga mau ditutup sepihak. Paman marah besar, dia mau pukul orang itu, tapi dia nggak bisa baca apa yang dia tandatangani sendiri. Kami kalah, Mbak. Kami kalah sama kertas.”

Laras merasakan sebuah hantaman di dadanya. Inilah potret literasi di desanya sebuah lubang gelap yang sengaja dipelihara agar mereka yang berjas rapi bisa dengan mudah menjerat mereka yang buta aksara. Kertas, yang seharusnya menjadi pembawa ilmu, justru menjadi belenggu kemiskinan di tangan yang salah.

“Duduk, Gas,” ucap Laras mantap. “Kita nggak akan cari buku cara bicara. Kita akan cari cara supaya kamu tahu apa yang sedang dibicarakan orang lain di atas kertas. Kita mulai sore ini.”

Minggu-minggu awal berjalan dengan sangat lambat. Laras tahu bahwa ia tidak bisa langsung menyodorkan buku teks yang berat atau novel yang tebal. Ia memulai dengan potongan koran bekas yang ia kumpulkan dari pasar. Ia membimbing jemari Bagas yang kasar di atas kertas, mengajarinya mengenali bentuk huruf demi huruf.

“Lihat ini, Gas. B-A-G-A-S. Ini namamu. Namamu punya martabat, punya sejarah. Jangan biarkan orang lain menaruh namamu di atas kertas yang tidak kamu mengerti isinya,” ucap Laras setiap kali Bagas mulai merasa jenuh.

Proses itu adalah perjuangan fisik bagi Bagas. Menarik garis lurus dengan pulpen terasa lebih berat daripada menarik tambang kapal. Otot-otot tangannya terlalu kaku untuk urusan halus seperti menulis. Namun, setiap kali ia teringat wajah pamannya yang putus asa di dermaga, Bagas memaksakan diri. Lambat laun, keberanian Bagas menular. Ia mulai membawa temannya, Catur, lalu adiknya, Mia. Teras Rumah Cahaya yang tadinya sunyi mulai berdenyut. Suara ejaan yang tersendat-sendat mulai terdengar bersahutan dengan suara ombak.

Pak Barja sering lewat di depan rumah itu. Ia biasanya berhenti sejenak, meludah ke tanah, dan berteriak, “Buat apa anak-anak itu disuruh main kertas, Laras! Besok mereka tetap harus panggul karung kalau mau makan!”

Laras hanya tersenyum dan menjawab, “Supaya besok mereka tahu seberapa berat karung yang sebenarnya mereka panggul, Pak Barja.”

Dampak dari gerakan kecil ini mulai merayap seperti air pasang yang perlahan membasahi pasir kering. Warga desa yang tadinya acuh mulai bertanya-tanya. Para ibu mulai mampir untuk sekadar mendengarkan Laras membacakan cara mengolah ikan agar tahan lama tanpa pengawet berbahaya. Literasi mulai bergerak dari teras rumah, menyusup ke dapur-dapur warga, dan akhirnya sampai ke tepian dermaga.

Puncaknya terjadi pada suatu sore yang terik, tiga bulan setelah Bagas pertama kali datang. Pria berjas necis dari perusahaan kota itu kembali datang ke dermaga, membawa setumpuk dokumen baru yang ia sebut sebagai “kompensasi damai”. Pak Barja, yang sudah lelah berkonflik, hampir saja menempelkan jempolnya yang bertinta ke atas kertas itu. Baginya, sedikit uang lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

“Tunggu, Paman!” teriak Bagas dari kejauhan. Ia berlari membelah kerumunan kuli yang sedang bimbang.

Bagas mengambil kertas itu dari tangan pria kota tersebut. Ia membacanya dengan bibir yang bergerak perlahan, mengeja setiap kata dengan penuh ketelitian. Kerumunan kuli terdiam. Hanya suara desau angin yang terdengar. Mata Bagas menyipit saat ia sampai pada paragraf ketiga.

“Jangan tanda tangan, Paman! Jangan ada yang tanda tangan!” teriak Bagas nyaring.

“Kenapa, Gas? Itu uang buat kita makan,” sela seorang kuli tua.

“Uang ini bukan kompensasi, Paman. Di sini tertulis ini adalah surat utang. Kalau kita ambil uang ini, kita dianggap meminjam ke perusahaan dengan jaminan sertifikat tanah rumah kita. Mereka bukan mau kasih bantuan, mereka mau ambil desa kita!”

Suasana dermaga mendadak mendidih. Pria berjas itu tampak pucat pasi, mencoba merampas kembali dokumennya, namun Pak Barja sudah lebih dulu mencengkeram kerah bajunya. Pak Barja menatap keponakannya dengan tatapan yang belum pernah ia berikan sebelumnya yaitu sebuah rasa hormat yang murni dan mengharukan. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Pasir Angin, warga tidak lagi hanya mengangguk pasrah. Mereka bergerak bersama karena mereka telah memiliki senjata yang paling mematikan bagi para penindas yaitu pengetahuan.

Malam harinya, Pak Barja mendatangi Rumah Cahaya. Ia tidak lagi meludah ke tanah. Di tangannya, ia membawa sebuah lampu petromaks baru yang masih berkilat.

“Laras,” kata Pak Barja dengan nada suara yang melunak. “Dulu saya pikir otot adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di sini. Sekarang saya tahu, otot tanpa mata yang bisa membaca cuma akan jadi alat buat orang lain memeras tenaga kami. Terima kasih sudah memberi kami mata baru melalui Bagas.”

Laras menatap lampu petromaks yang kini menyala terang di terasnya. Ia menyadari bahwa misi literasi bukan hanya soal memberantas buta aksara, tapi soal menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan. Ketika satu orang mulai membaca, ia menyalakan lilin untuk dirinya sendiri.

Namun, ketika mereka bergerak bersama, lilin-lilin itu menjadi obor raksasa yang mampu menghalau kegelapan sistem yang selama ini membelenggu mereka.

Kini, Desa Pasir Angin tidak lagi sama. Di dermaga, ada papan pengumuman kayu yang setiap pagi dibaca warga dengan saksama. Para nelayan mulai belajar literasi keuangan agar tidak terjerat lintah darat. Laras masih duduk di terasnya setiap sore, namun kini ia tidak lagi sendiri. Ia dibantu oleh Bagas dan pemuda lainnya untuk mengelola Rumah Cahaya yang koleksinya mulai bertambah banyak.

Mereka bergerak bersama literasi, bukan untuk menjadi orang asing yang sombong di tanah sendiri, melainkan untuk menjadi tuan yang berdaulat atas nasib mereka sendiri. Karena literasi yang sejati adalah ketika sebuah buku ditutup, namun dampaknya mulai melangkah di jalanan desa, hidup dalam setiap keputusan yang jujur, dan berdenyut dalam setiap perlawanan terhadap ketidakadilan. Cahaya itu kini telah menetap di Pasir Angin, dan ia menolak untuk padam.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait