LANGKAH-LANGKAH YANG MENUNTUNKU KEPADAMU
Penulis: Nur Afifatul Maulida
Senja baru saja turun ketika Kanaya menutup buku catatannya. Ia duduk sendirian di bangku taman sekolah, tempat yang selalu jadi pelariannya setiap kali hari terasa terlalu berat. Angin sore mengibaskan rambutnya, membawa aroma bunga kertas yang tumbuh tak jauh dari sana. Kanaya menatap halaman terakhir buku catatannya yang penuh coretan.
“Nilai ulangan turun, presentasi kacau, tugas ketinggalan… mantap!” gumamnya dalam hati.
Ia menghembuskan napas panjang.
“Capek duniawi, ya?”
Suara itu membuatnya menoleh. Seseorang sudah duduk di ujung bangku yang sama, Sagara. Seragamnya sudah sedikit kusut, tapi dasinya masih rapi. Siswa yang selalu tenang, selalu benar jawabannya di papan tulis, dan entah kenapa selalu berhasil membuat jantung Kanaya berdebar tanpa alasan jelas.
“Kamu kelihatan capek banget,” ulang Sagara, menatapnya dengan alis sedikit terangkat.
Kanaya mengangkat bahu. “Lumayan. Hari ini paket lengkap. Ulangan jeblok, presentasi hampir nge-blank, tugas malah ketinggalan. Kayaknya aku lagi dikutuk.”
Sagara terkekeh pelan. “Dikutuk lupa bawa tugas, gitu?”
“Ya… semacam itu.”
“Kamu sudah usaha, kan?” tanya Sagara.
Kanaya mengerutkan kening. “Ya, usaha sih… tapi hasilnya… ya gitu.”
Sagara menatap langit yang mulai berubah ungu. “Hari buruk itu biasa, Naya. Tapi aku lihat kamu dari dulu, kamu selalu bisa lewatinnya. Mungkin sekarang kamu cuma lagi berhenti sebentar.”
“Berhenti?”
“Iya. Kayak orang jalan jauh, terus duduk sebentar di bangku taman” jawabnya sambil melirik Kanaya. “Yang penting nanti jalan lagi.”
Kanaya terdiam. Kata-katanya sederhana, tapi hangat.
Sejak hari itu, Sagara selalu muncul di momen yang tepat. Di kelas, ketika Kanaya menatap bingung rumus matematika di papan tulis, Sagara mencondongkan badan.
“Nih, coba lihat” katanya sambil memutar buku latihan Kanaya ke arahnya. “Yang ini kamu salah di langkah kedua. Coba kerjain lagi dari sini.”
“Kenapa sih matematika nggak bisa kayak pelajaran lain?” gerutu Kanaya.
“Kenapa?”
“Soalnya kalau salah sedikit, langsung dihukum habis-habisan.”
Sagara tersenyum tipis. “Ya jangan salah, dong.”
Kanaya melotot. “Enak banget ngomong!”
Mereka berdua tertawa pelan, sementara suara guru di depan kelas terus menjelaskan.
Di sore lain, mereka duduk di perpustakaan. Buku-buku berserakan di atas meja.
“Serius, kamu nggak bosan ya bantu aku terus?” tanya Kanaya sambil memutar pulpen di jarinya.
“Enggak” jawab Sagara cepat. “Aku malah senang.”
“Senang lihat aku menderita sama tugas?”
“Senang karena aku bisa nemenin kamu,” ucap Sagara santai.
Kanaya langsung menunduk, pura-pura fokus pada bukunya. “Gombal banget, sumpah.”
“Siapa bilang gombal?”
“Habis… kalimat kamu kayak drama.”
“Kalau drama-nya sama kamu, aku nggak masalah.”
“Berisik,” potong Kanaya, tapi sudut bibirnya tak bisa menahan senyum.
Hari demi hari, langkah kecil Kanaya di sekolah hampir selalu diiringi langkah Sagara. Kadang mereka hanya duduk berdua di taman tanpa banyak bicara, saling berbagi cerita pendek tentang guru galak, tugas menumpuk, atau mimpi yang belum berani mereka ucapkan lantang.
Suatu sore, langit yang cerah tiba-tiba menghitam. Hujan turun deras saat bel pulang baru saja berbunyi. Satu per satu siswa berlari keluar gerbang dengan payung warna-warni.
Kanaya berdiri di depan kelas, menatap derasnya hujan. Ia merogoh tas, mencari sesuatu yang sangat ia harapkan ada di sana.
“Jangan bilang…” Ia terdiam. “Payungku… ketinggalan di rumah.”
Ia menghela napas, bersandar di dinding koridor yang mulai sepi. Lantai mengkilap oleh air yang terbawa sepatu.
“Ya sudah, nunggu reda aja…” gumamnya pelan.
Suara langkah kaki mendekat.
“Naya?”
Kanaya menoleh. Sagara berdiri beberapa langkah darinya, napasnya sedikit memburu seolah baru berlari. Seragamnya agak basah di bagian pundak.
“Kamu belum pulang?” tanya Sagara.
“Belum. Payung ketinggalan” jawab Kanaya, mengangkat tasnya sebagai bukti. “Kamu sendiri kenapa masih di sini?”
Sagara tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat, lalu mengangkat sesuatu dari belakang punggungnya.
Payung hitam terbuka di atas kepala Kanaya.
“Aku balik ke kelas cuma buat ambil ini” katanya. “Aku pikir kamu pasti belum pulang.”
Kanaya berkedip. “Kamu… balik lagi cuma buat jemput aku?”
“Iya” jawab Sagara santai. “Lagian rumah kita searah, kan? Sayang aja kalau kamu nunggu hujan reda sendirian.”
Hujan makin deras, menari di atas payung dan halaman sekolah. Beberapa detik berlalu dalam diam, hanya diisi suara air yang jatuh tanpa henti.
“Sa…” Kanaya menggigit bibir. “Kenapa kamu perhatian banget sama aku?”
Sagara terdiam. Ia menatap Kanaya cukup lama, seolah sedang mencari keberanian di balik setiap tetes hujan yang jatuh.
“Aku perhatian” ucapnya pelan, “karena aku suka kamu, Naya.”
Kanaya merasa jantungnya melompat. Wajahnya langsung panas.
“Kamu… ngomong apa sih…”
Sagara tersenyum tipis, tetapi matanya serius. “Aku suka kamu. Dari lama. Dari saat kamu pertama kali duduk sendirian di bangku taman itu, tapi pura-pura kelihatan kuat.”
Kanaya menunduk, menggenggam tali tasnya erat-erat. Hujan di depan mereka seperti kabur.
“Aku… juga suka kamu,” bisiknya, hampir tak terdengar.
“Hah?” Sagara mencondongkan badan. “Apa?”
Kanaya mendongak sedikit, pipinya memerah. “Aku juga suka kamu, Sagara. Dari lama. Dari setiap langkah kamu yang entah kenapa… selalu berhenti di tempat aku berada.”
Sagara tertawa kecil, lega. “Syukur deh. Kalau enggak, aku tadi udah siap pura-pura bilang ‘cuma bercanda’.”
“Dasar!” gumam Kanaya, mendorong pelan bahunya.
Sagara mengulurkan tangan. “Pulang?”
Kanaya menatap tangan itu sejenak, lalu menggenggamnya. “Pulang.”
Mereka melangkah keluar bersama, berdiri di bawah payung yang sama. Jalanan tampak basah, tapi langkah mereka terasa ringan.
Sejak hari itu, bangku taman, perpustakaan, koridor kelas, hingga jalan pulang tak lagi terasa sendiri. Langkah-langkah kecil yang dulu hanya menuntun Kanaya melewati hari-hari berat, kini menuntunnya pada seseorang yang berjalan di sisinya. Seseorang yang, tanpa ia sadari, sudah lama menjadi tujuan dari setiap langkah yang ia ambil.


