A-small-lonely-girl-standing-at-the-edge-of-the-ocean-during-golden-_sunset-waves-gently-touching-her-feet-long-hair-blowing-in-the-wind-_melancholic-yet-peaceful-expression-warm-orange-and-purple-sunset-tones-_soft-watercolor-illustra
Cerpen: Laut Senja

LAUT SENJA

Penulis: Rara Kirana Bethari

 

Sebuah pantulan cahaya kecil dari bola mata cantik si gadis mungil menjadi awal dari hari yang melelahkan. “Hai, aku Embun Aneiel.” Cerita ini seperti sepucuk surat kecil dariku yang berharap melihat laut kala itu.

Pagi tiba, teriakan lantang membangunkan tidurku.

“BANGUN ANAK SIALAN!!” teriakan dari arah dapur bawah.

Aku terperanjat kaget dan sontak berlari ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Saat menuruni tangga rumah, aku berpapasan dengan bundaku yang menjadi sosok di balik teriakan lantang tadi.

“Iya, Bunda. Ada apa?” tanya Embun.

“Kau ini pemalas sekali! Lihat kakak dan adikmu yang sudah siap dan bangun pagi. Dasar anak bodoh!” sarkas sang Bunda.

Embun menunduk dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia beranjak ke dapur hendak makan, tapi tak ada yang tersisa, hanya sepotong kecil roti.

“Aku tak berharap banyak, sekecil ini pun tak apa, aku sudah biasa,” gumam lembut Embun.

“Anak-anak, ayo berangkat!” panggil sang Bunda.

“Iya, Bunda,” jawab kakak dan adikku. Mereka Hera dan Algin, Hera sang kakak dan Algin sang adik.

Aku hanya menunduk dan mengikuti dari belakang langkah mereka.

“Saat ini aku menginjak usia 16 tahun, SMA kelas 1 IPA 2. Aku bermimpi untuk melihat laut walau sekali semasa hidupku.”

Saat Embun memasuki kelasnya, byur air pun membasahi baju sekolahnya.

“Hahaha, lihat si culun itu basah kuyup!” tawa teman sekelasnya, tak peduli dengan keadaan Embun.

“Gimana, seru nggak?” tanya salah satu temannya.

“Makanya jangan sok banget lu,” lanjutnya sambil menunjuk Embun yang basah kuyup.

Embun hanya menunduk dan hendak beranjak pergi meninggalkan kelas itu. Saat hendak pergi, sebuah tangan menahan pergelangan tangannya dengan erat hingga nampak memar keunguan.

“Mau ke mana, manis?” tanya si pembuli tadi. Kejadian ini sering sekali terjadi sejak ia masih di bangku SMP hingga sekarang. Tak ada waktu untuknya istirahat, entah di rumah atau di sekolahnya.

“Ayah, aku hanya ingin hidup tenang,” gumam Embun sedih. Ia ingat ayahnya dulu pernah bercerita bahwa laut itu indah dan kau bebas meluapkan emosi yang kau mau.

Semakin lama semakin sakit, membuat Embun hendak meneteskan air matanya.

“MELEPASMU? HAHAHA, JANGAN HARAP!” balas Caterine tak kalah nyaring.

“Kumohon…” mohon Embun. Air itu mulai mengalir dan membasahi pipiku.

“Baiklah, kau selamat hari ini. Yuk, guys, kita pergi, tinggalin anak SIALAN ini, haha,” ujar Caterine dengan menekankan kata sialan. Mata sinis itu perlahan menghilang dari pandanganku, membuatku lega.

Tak terasa bel pulang pun berbunyi, bunyi nyaring itu mengganti suasana sepi kelas menjadi serempak ramai.

Embun menatap lesu kertas yang ia pegang, lembar ujiannya tadi. Ia menunduk dan menggerutu semoga ia aman hari ini.

Saat sampai di rumah bersama kedua saudaranya, ia bergegas berganti baju dengan setelan maid. Pukul 5 sore, saat Embun hendak menyiram bunga di taman, sebuah tangan menarik gadis itu hingga terjatuh dan aku pun terseret dengan keadaan tak sadar akibat benturan ketika ditarik.

Sebuah pukulan membangunkanku. Bugh!

“Akh, sakit…” rintih gadis itu.

“DIAM!!!” teriakan bergema. Sesosok wanita terlihat tak jelas, lampu remang sebagai penerang ruangan itu.

“Hay, anak manis. Selamat ulang tahun, haha,” kata sosok wanita itu yang tak lain adalah sang Bunda.

“Bunda?”

Seringai muncul di wajah sang Bunda dengan cambuk di tangannya. Ctak! Ctak! Dua cambukan mengenai punggungku.

“AGH!!! Sakit!!! Bunda, sakit! Hiks, hiks!”

Siksaan itu terus saja terulang kembali, dan itu menyakitkan. Cambukan itu berganti menjadi sebuah pukulan dari benda tumpul. BUGH!

“AGH!!! Bunda, hiks, tolong berhenti!!!” pintaku.

Mendengar itu, sang Bunda jadi kehilangan mood lagi untuk menyiksanya.

Setelah kejadian itu, bibi pembantu membawa Embun ke kamarnya untuk diobati.  “Kasihan sekali nasibmu, Nak,” gumam sang bibi.

Bibi selesai mengobatinya pun beranjak pergi. Tak lama, Embun pun tersadar dan merasakan semua bagian tubuhnya remuk.

“Hiks, hiks… Ayah… hiks… Embun capek… hiks… kenapa harus Embun… hiks,” gumam Embun dalam tangisnya.

Ia merasa lelah karena tak sekali dua kali ia mengalami hal ini dan tak ada seorang pun yang mau memeluknya saat kesakitan.

“Sudahlah, sebaiknya aku tidur. Esok ia harus kembali ke sekolah lagi,” ujar Embun di dalam hati.

Ia akhirnya pun tertidur. Esoknya, saat sedang pelajaran, ada murid baru di kelasnya. Ia seorang remaja laki-laki dengan pakaian berantakannya.

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan perkenalkan namamu,” kata guru itu.

Akhirnya murid itu memperkenalkan diri.

“Gw Sagara Nauval Rajendra, tinggi 185+, hobi basket, bebas,” kata cowok itu.

“Baik, kamu bisa duduk di samping Embun karena hanya tempat itu yang tersisa,” lanjut sang guru.

Sagara menghampiri gadis itu dengan santai. Ia langsung menjadi pusat perhatian karena tingginya dan penampilannya ini padahal ia baru masuk di sini.

“Hy, gw Sagara. Lo Embun, kan? Salken,” ujar Sagara.

“Salken, aku Embun.” balas Embun dengan senyumnya.

“Manis,” gumam Sagara.

“Apa yang kamu ucapkan?” tanya Embun.

“Tak apa,” balas Sagara.

Akhirnya pelajaran pun berlanjut. Tak lama, bel istirahat berbunyi, kring… kring… Nampak seorang gadis menghampiri bangku Embun dan Sagara.

“Hay, Saga, salken, gw Caterin,” sapa gadis itu.

Sagara hanya menatap wajah siapa yang menyapanya tanpa hendak membalas uluran tangan perkenalan gadis itu.

Mata tajam itu nampak memancarkan aura tak suka. Ia merasa terganggu akibat kedatangan gadis itu.

“Embun, kantin.” kata Sagara yang langsung berdiri tanpa peduli dengan Caterin.

“Eh, ngapain?” tanya Embun ke Saga.

Tak mempedulikan ucapan Embun, Sagara langsung saja mengajaknya menuju kantin. Caterin yang ditinggalkan sendiri itu menghentikan kakinya dengan ekspresi sebal.

“Emm, Aga, kamu tau arah kantin?” tanya Embun ke Sagara, yang dijawab gelengan kepala dari sang empunya.

“Tunjukin,” ujarnya.

Akhirnya Embun mengarahkan ke arah kantin. Tak lama, mereka sampai di kantin.

Suasana kantin nampak ramai karena banyaknya siswa-siswi yang sedang istirahat. Tak lama terdengar teriakan dari arah kantin.

“Mbunnn, sini!” teriak seorang siswi dari kursi di ujung.

“Emm, Aga, gimana kalau di sana?” tanya Embun, yang dijawab anggukan singkat.

“Siapa tuh, ehem, nyaman banget tuh tangan” kata Kiana.

Mendengar itu, Sagara dan Embun baru sadar kalau tangan mereka masih saling menggenggam.

“Ih, apa sih, Ana,” balas Embun dengan muka yang nampak bersemu merah. Gadis itu Kiana Ayundia, teman Embun satu-satunya.

“Udah, udah, sini. Mau pesan apa? Ku pesenin,” kata Kiana.

“Em, aku enggak bawa uang, nggak usah,” kata Embun.

“Tak apa, aku beliin, Seng,” kata Kiana.

“Nggak usah, Ana, Embun nggak lapar kok,” jawab Embun.

Sagara yang mendengar itu hanya diam dan menyerahkan uang merah 2 lembar.

“Beli apa aja buat mereka. Gw traktir.”

“Ehem, lupa lu sama gw?” tanya siswa di samping Kiana.

“Eh, Gio, aku nggak sadar, sorry,” kata Embun.

Nampak tatapan tak suka dari sosok tinggi di sampingnya.

“Biasa, cowok ganteng kek gw itu langka, makanya susah diinget,” kata Gio.

“Eh, btw, samping kamu siapa, Mbun?” lanjutnya.

“Gw Sagara Nauval Rajendra,” jawab Sagara.

“Okey, bro, salken, gw Sargio Samudra,” balas Gio.

Mereka pun duduk sambil menunggu Kiana yang memesan makanan. Mereka asyik bercanda dan tertawa. Tak lama, Kiana datang dengan pesanan yang mereka pesan.

“Nih, makan. Keburu bel masuk,” kata Kiana.

“Makasih, Ana,” kata Embun.

“Thanks,” balas Sagara dan Gio.

Akhirnya mereka makan dengan khidmat dan tenang.

“Ehem, Sa, lo ikut ekskul basket sama gw, yok?” tanya Gio.

“Ya” balas Sagara.

Tak lama, bel masuk berbunyi dan pelajaran mereka pun berlanjut. Tak lama kemudian, jam menunjukkan pukul 3 sore, akhirnya mereka pun pulang.

“Pulang bareng gw,” kata Sagara.

“Nggak ada penolakan,” lanjutnya.

Embun tak punya pilihan lain selain menerima itu. Embun menunggu Sagara di depan parkiran karena cowok itu mau mengambil motornya.

Tak lama, nampak motor sport hitam yang menghampiri gadis itu.

“Naik,” kata Sagara.

“Emm, Aga, nggak nyampe,” jawab Embun.

Ah, cowok itu lupa, gadis di sampingnya itu pendek.

Akhirnya Saga pun mengangkat gadis itu.

“Ringan,” gumamnya.

Akhirnya mereka pun sampai di rumah Embun.

“Sampai,” kata Sagara.

“Makasih, Aga,” kata Embun.

Akhirnya Saga pun beranjak dari rumah itu.

“Pulang sama siapa? Mulai berani kamu,” kata Bundanya.

“Temenku,” kata Embun dan langsung beranjak ke kamarnya.

“Kemana? Kamu bantu Bunda bersih-bersih!” kata sang Bunda.

Setelah dari kamarnya, ia beranjak ke bawah dan membantu sang Bunda hingga menjelang malam. Setelah selesai pun ia langsung tidur.

***

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Embun sekarang sudah beranjak dewasa. Ia sekarang sudah kelas 3 SMA dan kedekatannya dengan Sagara sekarang lebih dari teman, ia sekarang berpacaran dengan Sagara.

Semenjak ia berpacaran dengan Sagara, ia tak pernah lagi mendapatkan gangguan di sekolah, meskipun kalau di rumah sama seperti sebelumnya.

“Ku kira tak akan ada hari tenang ketika aku hidup. Ternyata hanya sekilas mendengar suaramu itu membuatku merasa aman,” kata Embun di samping Sagara.

“Gw nggak mau senyum manismu itu menjadi senyum simpul yang datar,” kata Sagara.

“Aman itu bukan tentang kita tak akan terkena apa pun dan keselamatan yang selalu, tapi itu tentang seseorang yang menjaga kita tanpa kita tau,” kata Sagara.

Mereka berdua duduk santai di pantai, tempat yang dulu sangat ingin Embun datangi, kini memiliki banyak kenangan indah. Bersama Sagara, laki-laki hebat dan kuat.

Tak lama, mereka pun pulang dan Embun sudah disambut dengan Bundanya yang sepertinya mood-nya sedang tidak bagus.

“Ruang bawah tanah,” kata sang Bunda.

Embun tak punya pilihan lagi. Ia yang selalu menjadi samsak tinju sang Bunda. Sekarang ia mulai lelah dengan ini semua. Ia menyimpan luka ini lama, bahkan teman-temannya dan Sagara sang kekasih pun tak tau.

“Duduk!” perintah sang Bunda.

Embun duduk di tempat ia biasa disiksa sang Bunda. Bukan takut lagi yang ia rasakan saat ke tempat ini, ia seakan sudah tidak berharap hidup.

“Haha, mulai dari mana yang bagus,” gumam sang Bunda dengan smirk menyeramkan.

Sebuah belati kecil tepat di tangan sang Bunda.

“Mati lah perlahan dan susul ayah brengsekmu itu.”

Belati itu mulai bergerak ke sana-kemari, menciptakan goresan luka yang dialiri darah segar, nampak merah dan berbau amis.

“Hiks, Bunda, Embun capek, Bun… hiks… Embun juga mau disayang seperti Kak Hera dan Algi… hiks,” rintih Embun menahan pedih di sekujur tubuhnya.

“AGH!!!” teriakan dan tangisan Embun seolah tak ada, bak orang tuli di telinga sang Bunda.

Tanpa bius, jemari cantik gadis itu mulai terkelupas oleh sang Bunda.

“Aaaaaaaaaa… sa-sakit! Bunda, berhenti!” teriak Embun.

Sudah tak ada hal lain yang ia mau. Ia sudah cukup dengan Sagara yang sempat memberikannya rasa aman. Dan ya, banyaknya luka di tubuhnya remuk. Ia sudah lelah dengan semua ini. Hembusan berat nafasnya menjadi akhir dari hidupnya.

Esok hari, sekolah gempar karena dikabarkan Embun sudah tiada. Tak ada yang tau apa penyebab kematiannya. Teman-temannya terpukul akibat kejadian itu.

“Sampai akhirnya, tak ada yang tau apa yang terjadi dengan kita jika bukan Tuhan dan kita sendiri.”

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait