LUKA JENGGALA DAN PALU HUKUM
Penulis : Azahrani Salsa Gita
Seorang gadis membuka matanya. Ia hanya melihat kegelapan. Tidak ada cahaya, tidak ada siapa pun di dalam ruangan itu, hanya dirinya dan rantai yang mengikat tubuhnya.
Seseorang masuk ke dalam ruangan itu.
“Bagaimana rasanya dikhianati oleh seseorang yang kamu percaya, Jenggala?”
Suara itu sangat ia kenali. Ia adalah sahabatnya sendiri, Amerta.
“Sialan, apa yang kamu inginkan? Bukankah kita sahabat? Kenapa kamu melakukan ini?!” teriaknya pada Amerta. Jenggala tidak menyangka bahwa apa yang terjadi hari itu adalah ulah sahabatnya sendiri.
Amerta tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Tiba-tiba banyak pria masuk ke dalam. Masing-masing dari mereka memiliki wajah yang membuat ngeri dan tubuh yang gempal.
Jenggala memberontak, tetapi tenaganya kalah oleh banyaknya pria yang ada di sana. Pada akhirnya, Jenggala dilecehkan oleh mereka secara bergiliran.
Saat Jenggala membuka matanya lagi, ia tidak berada di tempat gelap itu. Kini ia berada di tengah hutan. Untungnya, ia mengenali di mana hutan ini berada. Dengan tubuh lemah, Jenggala berjalan perlahan, berusaha keluar dari hutan itu.
Ia akhirnya tiba di jalan yang sering dilalui kendaraan. Jenggala memberhentikan sebuah mobil yang melintas. Pengemudinya, yang tampak terkejut melihat kondisi Jenggala, mempersilakannya naik dan mengantarkannya pulang.
Orang tuanya yang melihat anak mereka pulang dalam keadaan lusuh langsung berlari memeluknya erat. Jenggala menangis meraung-raung hingga orang tuanya ikut merasakan kesedihan yang menghimpit dada anak mereka.
***
Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian yang menimpa Jenggala. Baru saat itu ia cukup kuat untuk menceritakan semuanya. Mendengar pengakuan putrinya, orang tua Jenggala memutuskan untuk menempuh jalur hukum.
Sidang pertama pun digelar. Semua saksi, pelaku, dan korban hadir di sana. Sidang itu berjalan sangat berat. Semua pelaku menyangkal perbuatan mereka, sementara di sisi Jenggala, ia kekurangan bukti yang dapat menjerat Amerta dan para pelaku lainnya.
Hakim akhirnya memutuskan bahwa sidang kedua akan dilanjutkan bulan depan.
Menunggu sidang berikutnya, Jenggala berusaha mencari bukti. Dalam pencariannya, ia menemukan bahwa korbannya bukan hanya dirinya. Masih ada perempuan-perempuan lain yang menjadi korban dari kejahatan Amerta dan komplotannya.
Sidang kedua dimulai. Jenggala datang dengan membawa bukti dan menghadirkan korban-korban lain. Suasana sidang hari itu terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.
Pada akhirnya, hakim membacakan putusan. Para pelaku divonis hukuman penjara dua tahun dan denda dua miliar rupiah. Palu diketukkan di meja tiga kali yang artinya, keputusan itu tidak dapat diubah.
Jenggala berdiri. Ia berbicara dengan suara yang penuh wibawa dan dari suaranya terdengar keputusasaan yang sangat menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya.
“Ini tidak adil. Dia menghancurkan diriku dan mereka. Apakah Anda tidak memikirkan hal itu, Yang Mulia Hakim yang terhormat? Anda adalah kuasa hukum yang seharusnya mengerti jika seseorang itu bersalah. Apakah Anda sudah terbutakan oleh uang suap mereka—”
Ucapan Jenggala terhenti ketika petugas pengadilan menyeretnya keluar dari ruang sidang. Ia tidak memberontak. Ia tetap tenang, meskipun ia keluar dari ruangan itu dengan cara yang dianggap tidak terhormat.
Jauh sebelum hari ia dipaksa keluar dari ruang sidang itu, setelah kejadian kelam yang menimpanya, Jenggala perlahan kehilangan jati dirinya. Terlebih saat ia mengetahui bahwa ia sedang mengandung anak dari salah satu pelaku yang telah melecehkannya.
Ia tahu bayi yang ada di dalam rahimnya tidak bersalah, tetapi kebencian terhadap kejadian itu membuatnya sulit menerima kehadiran sang bayi. Berulang kali Jenggala terjebak dalam pikiran untuk mengakhiri hidupnya dan menolak kehadiran anak tersebut. Luka yang ia pikul terlalu berat, hingga pada akhirnya ia harus dirawat di rumah sakit jiwa.
***
Kini, Jenggala berjalan di suatu taman yang indah. Di sini, tidak ada yang akan mengganggunya. Di sini, ia bebas melakukan apa saja. Wajahnya tenang, seolah semua beban telah sirna.
Dari kejauhan, ada seorang remaja yang sedang melihatnya. Remaja itu masih mengenakan seragam sekolah. Matanya berkaca-kaca, namun senyumnya lembut.
“Aku harap Ibu lebih bahagia di sini. Maaf karena aku membuat cerita tentangmu, Ibu,” ucapnya pelan, sangat pelan, hingga terdengar seperti bisikan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri dan angin yang lewat.
Ia berbalik dan pergi dari sana. Cairan bening mengalir tanpa permisi dari sudut matanya.


