SAKSI BISU
Penulis: Widya Ernawa Hapsari
Hujan turun perlahan di pagi yang tadinya cerah. Jalanan di depan rumah mulai licin, aroma tanah basah menembus jendela kamarku yang sedikit terbuka. Seolah-olah jendela itu punya mata yang diam-diam mengawasi setiap gerakanku.
Aku sudah mengenakan seragam sekolah. Tas sudah kusiapkan di atas kursi. Namun sejak tadi, aku hanya berdiri di depan meja belajar, menatap layar handphone yang menyala di genggaman.
Di sana ada dia, nama yang selalu kusebut pelan setiap pagi. Orang yang selalu kucari sebelum berangkat sekolah. Layar itu seperti dinding dan jembatan sekaligus: memisahkan kami, tapi juga menjadi satu-satunya cara kami bertemu lebih dulu.
Dengan hati yang berdebar, aku mulai mengetik.
“Bagaimana kamu berangkat pagi ini? Di sana hujan juga?”
Kukirim pesan itu dengan senyum kecil yang tentu saja tak bisa ia lihat. Jemariku sedikit gemetar; entah karena udara dingin atau karena menunggu balasan darinya.
Tak lama, notifikasi berbunyi.
“Dengan lembut, menunggu hujan reda, sambil memandang hujan yang tak kunjung berhenti,” begitu balasannya.
Lalu ia menambahkan:
“Kamu sendiri bagaimana?”
Aku melirik ke jendela. Hujan di tempatku juga makin deras. Dalam hati, aku ingin bilang yang sebenarnya, bahwa aku masih di rumah, masih ragu untuk keluar, masih takut terpeleset di jalan yang becek. Tapi kemudian bayangan wajahnya muncul di pikiranku. Wajah yang selalu tampak tenang meski sering datang ke sekolah dengan sepatu basah dan seragam yang belum kering sempurna.
Aku tidak ingin ia khawatir.
“Aku sudah sampai” tulisku cepat.
Jempolku sempat ragu di atas tombol kirim, namun akhirnya pesan itu meluncur juga. Titik biru di samping chat berganti menjadi centang dua.
Aku menghela napas.
“Hanya bohong kecil” gumamku pelan, mencoba meyakinkan diri.
Di luar, hujan justru makin rapat.
Belakangan, dari ceritanya, aku tahu apa yang terjadi setelah pesan itu terkirim. Ia tersenyum lega melihat tulisanku. Mengira aku sudah aman di kelas, ia tidak lagi menunda keberangkatan. Ia meraih tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu memanggil ibunya.
“Bu, aku berangkat dulu, ya!”
“Lho, hujannya masih deras, Nak. Nggak tunggu agak reda dulu?” tanya ibunya dari ruang tengah.
“Nggak apa-apa, Bu. Teman saya sudah sampai sekolah. Masa saya ketinggalan” jawabnya sambil tersenyum.
Tanpa banyak pikir, ia membuka pintu. Angin dingin dan hujan yang deras langsung menyambutnya. Dalam hitungan detik, seragamnya mulai basah. Tapi ia tetap berlari, memeluk tas ke dada, menembus tirai air yang seakan menahan langkahnya.
Sementara itu, aku masih berdiri di depan jendela.
Butir-butir hujan beradu di kaca, mengaburkan pemandangan luar. Jalanan tampak berbayang, seperti lukisan yang dilarutkan air. Di dalam dada, rasa bersalah mulai tumbuh pelan-pelan.
“Aku sudah sampai” ulangku dalam hati, mengingat kata-kataku sendiri.
Padahal aku bahkan belum menyentuh gagang pintu depan.
Aku duduk di tepi ranjang, memeluk tas.
“Apa aku jahat?” tanyaku lirih pada hujan di balik jendela. Tentu saja hujan tak menjawab apa-apa. Ia hanya terus turun, menjadi saksi bisu atas kebohongan kecilku yang melesat lewat jaringan tak terlihat.
Beberapa waktu kemudian, aku akhirnya tiba di sekolah. Hujan sudah sedikit mereda, tapi langit masih berwarna abu-abu. Udara dingin menyelinap lewat celah jendela kelas.
Aku duduk di bangku biasa, menatap layar handphone yang sudah kumatikan datanya. Ada dorongan untuk menulis pesan lagi, sekadar meminta maaf, atau mengaku jujur tapi jemariku hanya diam.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka.
Suara langkah tergesa terdengar, disusul hembusan angin dingin yang masuk bersamanya.
Dia berdiri di ambang pintu, seragamnya basah seperti habis dicelupkan ke dalam ember. Rambutnya menempel di dahi; baju putihnya penuh bercak air. Bahkan tali sepatunya pun tampak kotor. Lantai di dekatnya mulai dipenuhi titik-titik air yang jatuh dari ujung seragamnya.
“Basah banget, Bro!” seru salah satu teman sekelas sambil tertawa kecil.
“Udah kayak habis nyelam” sahut yang lain.
Dia hanya terkekeh pelan, mengusap rambutnya yang menetes. Napasnya masih sedikit tersengal, tapi matanya langsung mencari ke arahku.
Dan ketika tatapan kami bertemu, ia tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat, bukan senyum yang menuntut penjelasan hanya senyum hangat, begitu tulus.
“Aku kira kamu beneran udah di kelas dari tadi” katanya sambil berjalan mendekat.
Aku tercekat.
“Oh… aku…” suaraku menggantung di udara.
Ingin rasanya aku berkata maaf, aku bohong. Aku cuma takut kamu khawatir. Aku cuma takut terlihat manja karena takut hujan.
Tapi kata-kata itu membeku di ujung lidah.
Sebagai gantinya, aku hanya tersenyum kikuk.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku pelan.
Dia tertawa kecil. “Nggak apa-apa. Cuma basah sedikit. Yang penting kita sama-sama sampai, kan?”
Jawabannya sesederhana itu. Tanpa menyalahkan, tanpa menuntut apa-apa.
Saat itu, kehangatan yang lebih hangat dari sinar matahari merayap pelan di dadaku. Hujan di luar masih turun, mengetuk-ngetuk kaca jendela kelas seperti jari-jari halus yang ingin ikut menyimak.
Saksi bisu itu, rintik hujan, jendela, dan layar handphone telah melihat semuanya. Kebohongan kecil yang kukira tak berarti, langkah tergesa yang ia ambil karena pesan dariku, dan senyum tulusnya yang seolah berkata, “Tak apa, aku tetap di sini.”
Aku menunduk sebentar, meremas ujung rok seragamku.
“Besok” batinku, “besok aku akan jujur. Besok aku akan bilang yang sebenarnya. Besok aku ingin kita bertemu tanpa layar yang menengahi, tanpa kata-kata yang menyesatkan.”
Di luar, hujan masih turun.
Dan di dalam kelas, di antara suara guru yang mulai menjelaskan pelajaran, aku menyimpan satu janji kecil:
Jika hujan dan jendela adalah saksi bisu hari ini, biarlah kejujuran menjadi saksi hari esok.


