Guru
Guru, Penuntun Jiwa atau Boneka Birokrasi?

Guru, Penuntun Jiwa atau Boneka Birokrasi?

Penulis : Sulistyowati, M.Pd

Setiap pagi saya berdiri di gerbang sekolah dengan senyum yang telah terlatih oleh kebiasaan. Di tangan ada buku, di kepala tersusun rencana pembelajaran, dan di dada tersimpan keyakinan bahwa hari ini saya akan menyambut generasi masa depan. Beberapa langkah kemudian saya berjalan menyusuri selasar menuju kelas dan berdiri di hadapan para siswa. Namun dari hari ke hari senyuman itu terasa semakin hambar. Diam-diam muncul sebuah pertanyaan yang mengusik kesadaran saya. Apakah saya masih seorang penuntun jiwa siswa, atau sekadar boneka birokrasi?

Kegelisahan itu semakin terasa ketika memandang wajah-wajah muda yang hadir secara fisik tetapi sering kali absen secara jiwa. Ruang kelas yang dahulu terasa khidmat kini kerap dipenuhi percakapan yang tidak terarah. Saya berdiri di depan kelas dan berbicara panjang lebar, tetapi seolah tidak benar-benar hadir dalam kesadaran mereka. Saya berusaha menenun kata-kata agar pembelajaran tetap bermakna, tetapi yang sering tertinggal hanyalah informasi, bukan inspirasi. Di sinilah ironi ruang kelas terjadi. Guru dan siswa berada dalam satu ruang yang sama, pelajaran berlangsung sebagaimana mestinya, tetapi makna sering kali tidak benar-benar sampai.

Keresahan itu semakin terasa ketika berhadapan dengan realitas birokrasi pendidikan. Kurikulum berganti secepat musim dan laporan administratif menumpuk tanpa henti. Tuntutan ANBK, TKA, serta berbagai kebijakan baru sering datang tiba-tiba dan menuntut penyesuaian cepat dari para guru. Dalam situasi seperti ini, keinginan untuk menjadi pembimbing jiwa siswa sering kali terhambat oleh tuntutan sistem yang terasa kaku. Tidak sedikit guru yang akhirnya merasa dirinya hanya roda kecil dalam mesin besar birokrasi pendidikan.

Kim dan Asbury pada tahun 2020 pernah menggambarkan kondisi ini secara sangat tepat. Banyak guru merasa seperti permadani yang ditarik dari bawah kaki mereka. Sistem berubah dengan cepat, tuntutan semakin banyak, sementara ruang otonomi guru sering terasa semakin sempit. Dalam keadaan seperti itu, guru tidak jarang terjebak dalam rutinitas administratif yang menguras energi, sementara ruang untuk refleksi pedagogis justru semakin terbatas.

Namun ironi ini tidak seharusnya membuat kita meratapi profesi guru. Justru sebaliknya, keadaan ini merupakan panggilan untuk menyadarkan kembali makna profesi tersebut. Seorang guru tidak cukup hanya hadir dengan raga. Guru harus hadir dengan jiwa dan makna. Guru bukan sekadar pengisi ruang kelas atau pelaksana kurikulum. Guru adalah penuntun jiwa yang menyalakan api kehidupan dalam diri peserta didik.

Ki Hajar Dewantara sejak lama mengingatkan bahwa guru adalah pamong yang menuntun tumbuhnya kehidupan lahir dan batin peserta didik. Dalam pandangan ini, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan proses menuntun perkembangan manusia secara utuh. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Paulo Freire yang menolak pendidikan sebagai sekadar proses mengisi kepala peserta didik dengan informasi. Bagi Freire, guru sejati tidak menggurui, tetapi mengajak siswa berpikir, merasakan, dan mempertanyakan realitas hidupnya secara kritis.

Jika guru menyerah pada tumpukan laporan dan rutinitas tanpa makna, maka profesi ini berisiko kehilangan ruhnya. Guru dapat berubah menjadi pelaksana mekanis dari sebuah sistem yang terus bergerak tanpa refleksi. Dalam keadaan seperti itu, pendidikan kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Lalu bagaimana keluar dari labirin ironi ini? Jawabannya mungkin tidak selalu datang dari perubahan kebijakan yang besar. Sering kali perubahan justru dimulai dari cara seorang guru memandang dirinya sendiri dan profesinya. Transformasi guru sering berawal dari transformasi cara berpikir.

Carol S. Dweck pada tahun 2006 memperkenalkan konsep growth mindset sebagai keyakinan bahwa kemampuan manusia tidak bersifat tetap. Kemampuan dapat berkembang melalui usaha, pembelajaran, dan ketekunan. Pola pikir ini membuka ruang bagi individu untuk terus bertumbuh dan beradaptasi terhadap tantangan yang dihadapi.

Guru yang memiliki growth mindset tidak melihat tantangan sebagai penghalang. Tantangan justru dipandang sebagai kesempatan untuk berkembang. Kurikulum baru bukan ancaman, melainkan peluang untuk belajar. Tuntutan evaluasi bukan sekadar beban administratif, tetapi kesempatan untuk memperbaiki praktik pembelajaran. Ketika strategi mengajar tidak berhasil, mereka tidak merasa runtuh. Kegagalan dipandang sebagai bagian dari proses menjadi lebih baik. Kritik juga tidak dianggap sebagai serangan pribadi, melainkan sebagai umpan balik yang membantu proses perbaikan.

Dengan landasan pola pikir seperti ini, transformasi guru dapat dimulai. Transformasi tersebut tidak hanya menyentuh aspek intelektual, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih luas dalam kehidupan seorang pendidik.

Transformasi jiwa menuntut guru membangun daya tahan batin agar tetap teguh menghadapi tekanan sistem, perubahan kebijakan, serta dinamika kelas yang tidak selalu mudah. Transformasi raga mengingatkan bahwa guru juga manusia yang membutuhkan kesehatan fisik dan mental agar mampu hadir secara utuh bagi siswa. Transformasi pikir mendorong guru untuk terus memperkaya wawasan, berinovasi dalam pembelajaran, dan memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Transformasi rasa mengajak guru membangun hubungan yang empatik dengan siswa sehingga ruang kelas menjadi tempat belajar yang aman, hangat, dan penuh penghargaan.

Pada akhirnya pertanyaan yang muncul di awal tulisan ini kembali hadir. Apakah guru akan menjadi boneka birokrasi atau tetap menjadi penuntun jiwa? Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sepenuhnya ditentukan oleh sistem pendidikan. Jawaban itu juga ditentukan oleh pilihan yang diambil oleh setiap guru dalam menjalani profesinya.

Jika guru menyerah pada rutinitas tanpa makna, maka profesi ini berisiko kehilangan arah. Namun jika guru berani bertransformasi dan menyalakan kembali api panggilan jiwanya, maka pendidikan tetap memiliki harapan. Setiap pagi ketika seorang guru kembali berdiri di depan kelas, di situlah pilihan itu sebenarnya sedang ditentukan. 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait