Lebih dari Sekadar Piala
Penulis: Sulistyowati, M.Pd
“Pak, sekolah kita juara apa tahun ini?”
Pak Guru menoleh sebentar dari absennya. Tidak langsung menjawab. Hanya tersenyum tipis sambil menutup buku presensi.
“Kamu sudah datang jam 06.30 selama tiga bulan ini, kan?”
“Iya, Pak… tapi itu kan bukan juara.”
“Siapa bilang bukan?”
Siswa itu terdiam. Belum menemukan jawaban yang pas. Tapi Pak Guru juga tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya berjalan menuju barisan, seolah percakapan itu sudah selesai. Padahal sebenarnya, percakapan itu baru saja dimulai.
Banyak orang mengira prestasi sebuah sekolah hanya bisa dilihat dari lemari kaca yang penuh piala, atau dinding yang dipenuhi piagam bergilir. Ukurannya dianggap sederhana yaitu siapa yang paling banyak menang lomba, siapa yang nilai ujiannya paling tinggi, siapa yang namanya paling sering disebut di upacara. Tapi di SMK Cendika Bangsa, ada keyakinan yang sudah lama tumbuh dan mengakar kuat, bahwa ada bentuk keberhasilan lain yang jauh lebih sulit diukur dan justru karena itulah ia menjadi jauh lebih berarti.
Bayangkan ratusan siswa yang setiap pagi bisa saja memilih untuk tetap berbaring di kasur, menunggu alarm ketiga, lalu datang ke sekolah dengan napas tersengal tepat sebelum bel berbunyi. Bayangkan betapa mudahnya pilihan itu. Tapi mereka tidak mengambilnya. Mereka bangun. Mereka bergegas. Mereka tiba di lapangan sebelum matahari benar-benar naik, berbaris dengan rapi, dan berdiri tegap ketika bendera merah putih mulai bergerak ke atas tiang. Lagu Indonesia Raya berkumandang dengan suara yang kadang tidak sempurna, kadang sumbang di sana-sini, tapi tidak pernah tidak sungguh-sungguh. Itulah yang terjadi setiap pagi di apel harian dan setiap Senin di upacara bendera.
Mungkin ada yang bertanya, apa istimewanya berdiri di lapangan setiap pagi? Jawabannya ada pada sesuatu yang tidak kasat mata. Setiap kali siswa memilih untuk hadir tepat waktu, ia sedang melatih satu otot yang paling langka di dunia ini yaitu kedisiplinan. Bukan kedisiplinan karena takut dihukum, tapi kedisiplinan yang tumbuh dari dalam, dari pemahaman bahwa memulai hari dengan benar adalah tanggung jawab yang tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun. Dan ketika bendera itu naik, ketika lagu itu berkumandang, ada sesuatu yang ditanam secara diam-diam di dalam dada setiap siswa yang berdiri di sana, rasa memiliki terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Lalu datanglah hari Jumat, hari yang sengaja dirancang untuk bernafas berbeda. Tidak ada apel, tidak ada barisan formal. Sebagai gantinya, kadang lapangan berubah menjadi panggung kegembiraan. Senam bersama dimulai dengan instruktur yang penuh semangat dan gerakan yang kadang membuat barisan guru piket ikut tertawa tanpa bisa ditahan. Atau jalan sehat yang rutenya sengaja melewati kampung sekitar, sehingga warga pun ikut tersenyum melihat rombongan seragam putih abu-abu yang melangkah dengan riang. Di momen-momen inilah jarak antara siswa dan guru meleleh begitu saja. Tidak ada yang sedang menilai. Tidak ada yang sedang dinilai. Semua orang hanya sedang menjadi manusia biasa yang kebetulan berkeringat bersama.
Di Jumat yang lain, suasananya berganti sepenuhnya. Lapangan yang tadi riuh kini menjadi tempat yang sunyi dan penuh kekhusyukan. Istighotsah mengalun pelan, tahlil menyusul, lalu yasin dibacakan bersama dalam satu suara yang entah bagaimana selalu terasa lebih besar dari jumlah orang yang membacanya. Siswa yang di hari-hari biasa tidak bisa diam lebih dari lima menit pun ikut terdiam. Bukan karena ada guru yang mengawasi. Bukan karena ada nilai yang sedang dihitung. Tapi karena ada sesuatu dalam doa bersama yang memang punya cara tersendiri untuk menjangkau bagian paling dalam dari diri seseorang, bagian yang tidak pernah bisa dicapai oleh soal pilihan ganda mana pun.
Keberhasilan sebuah sekolah, kami percaya, tidak cukup diukur dari apa yang terpajang di lemari piala. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi pada diri siswa setelah mereka melewati ratusan, bahkan ribuan pagi seperti itu. Apakah mereka tumbuh menjadi orang yang bisa dipercaya? Apakah mereka belajar hadir sepenuhnya, bukan hanya secara fisik tapi juga secara hati? Apakah mereka tahu cara berdoa ketika sesuatu terasa berat, dan tahu cara tertawa ketika sesuatu terasa ringan? Apakah mereka paham bahwa disiplin bukan penjara, melainkan fondasi dari kebebasan yang sesungguhnya?
Prestasi sejati tidak selalu berbentuk trofi yang bisa dipajang. Kadang ia berbentuk seorang siswa yang tiba di lapangan tiga menit lebih awal dari yang diminta. Kadang ia berbentuk suara doa yang terdengar sungguh-sungguh di mulut seseorang yang kemarin masih malas-malasan. Kadang ia berbentuk senyum kecil seorang guru yang melihat anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar pemegang nilai tertinggi.
Jadi ketika ada siswa yang suatu hari nanti bertanya lagi tentang juara, mungkin jawaban yang paling jujur adalah ini. Kita sedang mencetak orang-orang yang tahu bagaimana cara memulai pagi dengan benar. Dan itu, diam-diam, adalah prestasi yang paling sulit ditiru oleh sekolah mana pun.


