Guru
Refleksi: Isi Dompet Guru yang Sering Terlupakan

Isi Dompet Guru yang Sering Terlupakan

Penulis : Sulistyowati, M.Pd

 

“Bu guru, kalau nanti saya sudah kerja, gajinya bisa buat hidup nggak?”

Pertanyaan itu datang dari seorang siswa dengan wajah polos dan logika yang sangat praktis. Saya sempat terdiam beberapa detik. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena pertanyaan itu terasa seperti cermin yang tiba-tiba diletakkan di depan wajah saya sendiri. Anak itu sedang bertanya tentang masa depannya, tetapi entah mengapa saya merasa seperti sedang ditanya tentang kehidupan saya sebagai seorang guru.

 

Selama ini kita para guru sangat tangguh membicarakan banyak hal. Kita bisa berdiskusi panjang tentang perubahan kurikulum, strategi pembelajaran abad ke-21, diferensiasi, literasi digital, bahkan kecerdasan buatan. Namun ada satu topik yang sering membuat kita sedikit kikuk ketika membicarakannya secara serius, yaitu soal uang. Anehnya, kata itu terasa agak tabu ketika keluar dari mulut seorang guru. Kita bisa berbicara tentang pengabdian dengan suara lantang, tetapi ketika sampai pada topik penghasilan, suara kita sering mengecil seperti sedang membicarakan rahasia keluarga. Di ruang guru, percakapan tentang gaji biasanya muncul dalam bentuk bercanda. Kita mengeluh sedikit, tertawa sedikit, lalu menutupnya dengan kalimat yang sangat terkenal di kalangan guru “yang penting pahala, Pak/Bu”. Kalimat yang terdengar sangat religius, tetapi sering diucapkan dengan senyum yang menyiratkan bahwa pahala itu sebenarnya lebih menenangkan jika juga ditemani sedikit saldo di rekening.

 

Menariknya, di mata masyarakat, kehidupan guru sering terlihat sangat damai. Guru dipandang sebagai sosok yang tenang, sederhana, bersahaja, dan seolah tidak kekurangan apa pun…(Aamiin). Guru dianggap hidup cukup, tidak berlebihan tetapi juga tidak kekurangan. Mungkin karena guru jarang terlihat mengeluh secara terbuka. Atau mungkin karena kita sendiri cukup pandai menyembunyikan kegelisahan itu di balik senyum yang sudah terlatih sejak lama. Kita tetap datang ke sekolah dengan wajah tenang, padahal di dalam kepala kita juga sedang menghitung cicilan, kebutuhan rumah tangga, atau sekadar memastikan bahwa gaji bulan ini cukup sampai akhir bulan.

 

Padahal jika kita jujur, kehidupan guru sebenarnya sangat manusiawi. Guru membeli beras di warung yang sama dengan profesi lain. Guru membayar listrik yang tidak pernah memberi potongan harga hanya karena penggunanya seorang pendidik. Guru juga memikirkan masa depan anaknya dengan kecemasan yang sama seperti orang tua lainnya. Idealisme memang penting, tetapi kehidupan sehari-hari tidak pernah berjalan hanya dengan idealisme.

 

Barangkali karena itulah kita para guru sering menjadi ahli menertawakan diri sendiri. Kita tahu profesi ini tidak selalu memberi kemewahan, tetapi entah mengapa kita tetap bertahan di dalamnya. Kita mengajar tentang mimpi besar kepada siswa, sambil sesekali tersenyum kecil ketika menyadari bahwa kita sendiri masih belajar menyeimbangkan mimpi dan kenyataan.

 

Di titik itulah saya mulai menyadari bahwa kehidupan seorang guru sebenarnya tidak hanya tentang pengabdian, tetapi juga tentang keseimbangan hidup. Guru membutuhkan kekuatan jiwa untuk tetap percaya pada makna profesinya. Ia membutuhkan kesehatan raga agar mampu menjalani rutinitas pendidikan yang panjang. Ia membutuhkan ketajaman pikir untuk terus belajar dan berinovasi. Ia membutuhkan kehangatan rasa untuk memahami siswa sebagai manusia. Dan pada saat yang sama, ia juga membutuhkan ketahanan finansial agar kehidupannya tidak terus-menerus diganggu oleh kecemasan yang terlalu praktis.

 

Jika direnungkan secara reflektif, keseimbangan itu dapat dilihat melalui lima dimensi kehidupan yaitu jiwa, raga, pikir, rasa, dan finansial. Menariknya, lima dimensi ini memiliki kemiripan simbolik dengan lima fondasi kehidupan dalam Islam yang dikenal sebagai rukun Islam. Perbandingan ini tentu bukan untuk menyamakan secara teologis, melainkan sekadar cara sederhana untuk merenungkan keseimbangan hidup manusia.

 

Jiwa seorang guru membutuhkan keyakinan seperti syahadat. Keyakinan bahwa profesi ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pekerjaan. Tanpa keyakinan itu, mengajar akan mudah berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Raga seorang guru membutuhkan kedisiplinan seperti sholat. Mengajar beberapa jam sehari, berpindah kelas, menghadapi berbagai karakter siswa, serta menyelesaikan berbagai tugas tambahan membutuhkan stamina yang tidak sedikit. Tanpa raga yang terjaga, semangat mengajar bisa cepat terkuras.

 

Pikir seorang guru menyerupai perjalanan haji, sebuah proses panjang menuju kematangan pengetahuan. Dunia pendidikan terus berubah, dan guru yang berhenti belajar perlahan akan tertinggal oleh zaman. Karena itu perjalanan intelektual seorang guru sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.

 

Rasa seorang guru mengingatkan pada latihan puasa, yang melatih empati dan kesabaran. Guru berhadapan dengan siswa yang datang dari berbagai latar belakang kehidupan. Tanpa empati, pendidikan hanya akan menjadi proses menyampaikan materi, bukan proses memahami manusia.

 

Dan akhirnya, kehidupan seorang guru juga membutuhkan keseimbangan ekonomi seperti zakat. Bukan untuk mengejar kemewahan, tetapi untuk memastikan bahwa kehidupan dapat berjalan dengan tenang dan bermartabat. Guru yang memiliki ketenangan finansial akan lebih leluasa memusatkan energi pada pendidikan, bukan terus-menerus disibukkan oleh kecemasan tentang kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Di sinilah kita mulai memahami sesuatu yang sering luput dari percakapan tentang profesi guru. Kita sangat sering memuji jiwa pengabdian guru. Kita juga sangat sering berbicara tentang dedikasi dan keteladanan guru. Namun kita jarang berhenti sejenak untuk membicarakan satu hal yang sangat sederhana tetapi sangat nyata yakni bagaimana isi dompet guru sebenarnya ikut menopang kehidupan idealismenya.

 

Karena pada akhirnya, guru memang menyalakan cahaya bagi masa depan orang lain. Tetapi agar cahaya itu tetap menyala lama, kehidupannya sendiri juga membutuhkan keseimbangan yang utuh antara jiwa, raga, pikir, rasa, dan finansial. Dan mungkin di situlah kehebatan kecil yang sering kita sembunyikan.  Profesi yang mampu tetap tersenyum, tetap mengajar, tetap menyalakan harapan… sambil sesekali meyakinkan diri sendiri bahwa kita adalah guru yang selalu merasa kaya raya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait