A-young-teenage-witch-girl-with-long-black-hair-holding-a-magic-wand-_wearing-a-school-uniform-glowing-crescent-moon-and-star-necklace-_sun-ring-on-her-finger-fantasy-magical-academy-background-_cinematic-lighting-anime-inspired-digit
Cerpen: Second of the Ancient Witch

SECOND OF THE ANCIENT WITCH

Penulis: Muhammad Akhbar Maulana Alfiansyah

Dahulu kala perang antar kedua wilayah Barat dan Timur yang bernama Dobuwe dan Asajez.

Kedua wilayah ini berperang diakibatkan perebutan wilayah baru yang mengakibatkan kebakaran hutan, banyak warga desa yang tidak berdosa meninggal dunia, dan banyak hewan- hewan tewas akibat peperangan tersebut.

Namun, di tengah peperangan muncullah seorang penyihir yang entah darimana asalnya untuk menghentikan perang tersebut dengan menggunakan sihir kunonya.

Setelah kedua pihak wilayah menghentikan peperangan sang penyihir meninggalkan pesan.

“Lebih baik kalian bekerja sama daripada melakukan yang tidak berguna ini!!” Tegasnya.

Kemudian penyihir itu langsung pergi entah kemana arahnya, lalu kedua pihak wilayah tersebut melakukan perdamaian dan membentuk kerajaan di wilayah baru bernama Dastrajez yang dipimpin oleh raja pertama bernama Aszfeil Lombrotus. Setelah kerajaan tersebut terbentuk banyak warga-warga, hewan-hewan tinggal di sana serta banyak pengunjung untuk menikmati indahnya pemandangan dan kekayaan alam di kerajaan tersebut.

Sejarah tersebut tercatat di dalam buku cerita rakyat yang berjudul ‘penyihir sang pemersatu bangsa.’ Dikarenakan yang menghentikan peperangan serta menyadarkan kedua pihak wilayah tersebut adalah dia, segala identitasnya masih belum diketahui maka dia dijuluki ‘The Ancient Of Wizard.’

Kembali ke masa sekarang dimana ada sebuah rumah kecil sederhana yang tinggal di dataran tinggi di wilayah kerajaan Dastrajez yang agak jauh dari kerajaan tersebut. Rumah tersebut ditempati oleh gadis pemuda beserta neneknya.

“Aku berangkat dulu ya nek!” Sambil mengecup tangan neneknya.

Gadis tersebut bernama Nisa Astraz, berambut panjang, rambut berwarna hitam, serta tubuhnya ramping. Dia seorang penyihir berumur 15 tahun dan baru masuk sekolah tingkat SMA bernama ‘Wisterria.’ Sekolah khusus penyihir yang sangat elite disertai fasilitas yang mewah juga terdapat asrama, dia masuk sekolah tersebut karena banyak pencapaian yang ia raih.

“Iya nak.. hati-hati jaga dirimu ya.. dan jangan lupakan dirimu.” Sambil mengecup kening cucunya serta memeluknya.

Nenek itu bernama Sarah Isabella, dia juga penyihir berumur 59 tahun dialah yang melatih cucunya sampai detik ini. Nisa adalah anak yatim piatu ditinggal oleh kedua orangtuanya saat umur 3 tahun di saat itulah neneknya mulai merawat dan melatihnya sampai saat ini.

Sekarang Nisa berangkat menggunakan sapu terbang dan menuju ke sekolahnya yang terletak di dekat alun-alun kota.

*Saat sampai di sekolah*

Saat dia sampai di depan gerbang sekolah ia melihat seseorang yang terlihat familiar yang seperti sahabat nya.

“NISAAA!!” Sambil berlari ke sahabat nya.

Gadis bernama Linda Reftreous, berambut pendek, rambut warna merah terang serta tubuhnya agak kecil dan pendek dibandingkan Nisa, dia berasal dari alun-alun kota kerajaan.

“YA AMPUN LINDAAA!!” Kedua bestie tersebut berpelukan sambil berteriak.

“Lu sekolah sini juga?!”

“Ya iya lah.”

“Hmmm biasalah anak sultan ye kan!??” Sambil menepuk bahunya.

Mereka sudah berteman lama sejak umur 5 tahun, mereka selalu bersama bagaikan lintah sehingga hubungan mereka selalu menempel.

“Eh ayo masuk nis, keburu gak dapet tempat duduk.” Seru Linda sambil menarik tangan Nisa.

Nisa hanya mengangguk saja, setelah mereka masuk ke aula sekolah (karena pertemuannya disuruh ke aula) terdapat 3 guru yang berdiri di depan hadapan para siswa-siswi.

Mereka memperkenalkan diri, pertama bernama Ainz Lafestro selaku kepala sekolah, kedua bernama Lisa Festryz selaku wakil kepala sekolah, dan ketiga bernama Alex Leonheart selaku kepala keamanan sekaligus pelatih. Mereka memperkenalkan semua lingkungan sekolah serta menceritakan asal-usul kenapa sekolah ini didirikan.

Setelah menjelaskan keseluruhan tentang sekolah tersebut mereka memberikan sebuah formulir yang isinya hanya identitas, setelah para murid selesai mengisi formulir tersebut mereka disuruh maju ke depan untuk mengukur kekuatannya melalui bola ajaib.

Bola tersebut akan menunjukkan hasil pengukuran berupa perubahan warna, merah=api, kuning=petir, biru=air, putih polos=angin, dan hijau=tumbuhan. Itu adalah hasil yang biasa terlihat oleh umum kalau kekuatan cahaya dan kegelapan itu sangat langka dan hampir tidak ada yang mendapatkan kekuatan tersebut karena sangat amat langka.

Saat giliran Linda maju bola ajaib menunjukkan 2 warna yaitu, biru keputihan=es dan merah=api jarang sekali ada siswa/siswi mempunyai dua kekuatan elemen sekaligus. Tetapi saat Linda gilirannya selesai terdapat siswa yang sedikit menyenggolnya siswa tersebut bernama Faris Francisco.

Berasal dari wilayah kerajaan tengah bernama Festrezeyn sekaligus bangsawan wilayah sana, saat dia menyentuh bola ajaib bola tersebut mengeluarkan hasil 5 warna kekuatan umum sekaligus, semua orang di dalam sana kaget dan memberikan apresiasi pada siswa tersebut. Saat dia disuruh kembali ke tempat duduk dia beranjak ke tempat duduknya dan berjalan seperti agak sombong dan dingin.

‘dih mentang-mentang situ bangsawan sok sombong bet, nggak bales sapaan para siswa-siswi pula.’ Batin Nisa sambil mengerutkan alisnya tapi secara diam-diam.

Saat giliran terakhir yaitu Nisa disuruh untuk maju ke depan, saat dia menyentuh bola tersebut tiba-tiba bola itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang sehingga hampir satu ruangan aula tersebut tertutup akibat cahaya, saat cahaya tersebut berakhir bola ajaib menunjukkan hasil warna bening=tidak ada hasil/belum diketahui dan beberapa siswa-siswi ada yang pingsan, teriak kesakitan dan sebagainya akibat efek cahaya tersebut.

“Ah.. mataku..”

“Apa-apaan cahaya tadi?”

Terdengar dari kejauhan terdapat siswa yang meledek Nisa yaitu Faris.

“Tch, kirain hasilnya akan menakjubkan ternyata nihil.” Ledeknya.

Nisa hanya mengabaikannya dan hanya membalas dengan meliriknya, setelah kejadian tersebut para guru meminta maaf dan meminta para siswa-siswi untuk kembali ke asrama untuk persiapan tes selanjutnya besok.

Saat Nisa sampai di asrama dia langsung menuju ke kamarnya tapi setelah membuka pintu kamar terdapat sahabatnya yang sedang duduk di sebelah kasur Nisa.

“Loh lu sekamar sama gua?” Tanyanya.

“Iya, tapi aslinya aku gak boleh sih tapi aku keras kepala meminta ayahku sekamar denganmu.” Ujarnya.

“Loh ayahmu kepala sekolah itu????” Tanya dengan nada shock.

“Iya hehe.” Jawab dengan polosnya.

“Pantesan saat di aula tadi kayak mirip bapak lu woi ternyata memang bapak  lu!” Sambil menggoyangkan pundak sahabatnya.

“Udah-udah sekarang rapiin barang-barang lu habis ini gua ajak keliling sekolah dan mentraktir lu.” Sambil memegang kedua tangan Nisa.

“WHAT BENERAN NIH???” Dia mengguncangkan pundak sahabatnya lagi.

“Iya sekarang lepasin tangan lu lah.” Sambil menghentikan tangan Nisa.

Nisa hanya mengangguk dan cepat-cepat merapikan barang bawaannya. Setelah Nisa merapikan barangnya dia bergegas menarik tangan Linda keluar kamar, saat dia beranjak keluar dari kamar dia tidak sengaja menabrak seorang pemuda laki-laki yang bernama Faris sang bangsawan. Nisa langsung berdiri dan menunduk sebagai permintaan maaf.

“Saya mohon maaf atas kecerobohan saya.”

“Lain kali kalau jalan pakai mata dasar rakyat jelata!” Ledeknya di hadapannya dan Linda.

Lalu Faris hanya meninggalkan mereka berdua”

“Udah jangan dipikirin.” Sambil menepuk bahu Nisa.

“Alah gakpapa kok.” Sambil berdiri.

“Oh ya, ayo katanya ajak keliling sambil traktir.”

Oh iya hampir lupa ayo mumpung agak sore ini.”

Mereka pun berkeliling sekolah sambil membeli makanan dan minuman di sana, malam pun tiba semua siswa-siswi pun kembali ke asrama dan kamar masing-masing.

“Aduh.. enak bet seblak di sana Lin gua sampe nambah 3 lohh tapi sayang gak bisa dibungkus.” sambil ganti baju.

“Oh ya makasih udah ngajak keliling sama traktir gua ya, btw lu bungkusnya banyak bet.” “Iya sama-sama, lu mau? Nih ambil.” Sambil memberikan jajan dan minumannya.

“Ya ampun makasih banyak yee.”

“Oh ya habis ini langsung cepat tidur ya soalnya besok harus bangun lebih awal.” Sambil ganti baju.

Nisa hanya mengangguk saja lalu mereka menikmati jajanan dan minuman sambil ngobrol, setelah selesai makan minum dan mengobrol mereka bersiap-siap untuk tidur.

“Malam Nis.” Sambil mematikan lampu kamar dan lampu tidur.

“Malam juga Lin.” Sambil mematikan lampu tidur dan tidur.

Saat Nisa sudah tertidur dia bermimpi aneh dan merasa dia sadar bahwa dia bermimpi.

*Di dalam mimpi*

“Di mana ini kok ada pepohonan dan… Rumah?” Dia melangkah menuju ke rumah tersebut.

“Halo apa ada orang?” Sambil mengetuk pintu.

Tiba-tiba dibelakang ada orang yang menepuk bahunya dan Nisa langsung putar badan, sosok tersebut seperti penyihir.

“Oh maaf apakah aku mengagetkanmu?”

“Oh ya tidak terlalu.” Sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Ngomong-ngomong ini di mana ya pak?” Bertanya dengan nada gelisah serta panik.

“Aku lah yang memanggilmu kemari dikarenakan ada tantangan terbesar di dunia nyata yang akan kamu hadapi.” Sambil mengelus kepala Nisa untuk menenangkannya.

Nisa masih kebingungan mengapa dia dipanggil kemari dan apa yang dimaksud ‘tantangan terbesar.’ dan untuk apa bapak ini hanya memanggilnya? Pertanyaan itu terus terpikirkan olehnya sehingga dia lupa untuk bernafas.

“Nak?”

*Ambil nafas dalam-dalam* “oh maaf pak saya melamun tadi.”

Lalu penyihir tersebut mengajak Nisa untuk masuk ke dalam rumahnya dan Nisa hanya nurut saja, lalu ada sosok perempuan yang kemungkinan itu istrinya menyiapkan teh dan semacam biskuit.

“Silahkan duduk.” Ujarnya wanita tersebut.

Nisa dengan penyihir tersebut pun duduk dan wanita tersebut meninggalkan mereka berdua, lalu penyihir itu menjelaskan kenapa dan untuk apa Nisa dipanggil kemari. Penyihir tersebut memanggil Nisa karena yang terpilih takdir dan dilatih olehnya selama 1000 tahun.

“1000 tahun???” Lalu minum teh sebab mendengar penjelasan tersebut.

“Lalu bagaimana tubuh saya di dunia nyata??” Tanya dengan nada agak sedikit bentak.

“Tenangkan dirimu nak..” sambil mengambil nafas.

“Waktu di sini lebih cepat daripada di dunia nyatamu, 100 tahun disini sama dengan 1 menit di dunia nyata.” Jelasnya.

“Beneran pak?”

“Iya.. sekarang istirahatlah besok latihannya dimulai.”

Kemudian penyihir tersebut meninggalkannya, Nisa langsung menuju kamar dan istirahat untuk menenangkan pikirannya. Tidur di mimpi? Memang benar bisa dan alam bawah sadarnya Nisa yang di pindah ke dunia tersebut sehingga dia merasa tubuhnya di dalam mimpinya itu terasa nyata.

Keesokan harinya,

Dia bangun dan membuka pintu rumah dan hanya melihat wanita itu sedang memetik bunga. “Permisi bu, ibu melihat bapak penyihir gak?” Tanyanya.

Kemudian wanita itu menoleh ke Nisa kemudian meletakkan sekuncup bunga ke bagian atas daun telinganya lalu tersenyum.

“Dia lagi ada keperluan, jadi ibu yang akan melatih mu.” Sambil mengelus kepala Nisa.

Nisa hanya mengangguk dan mengikuti arahannya, wanita tersebut melatih Nisa menggunakan kekuatan fisiknya. Mulai dari push up, lari keliling pulau, berenang, dan latihan fisik lainnya secara keras dan rutin.

Di saat itu tubuh Nisa merasa lelah ekstrim tetapi dia tidak mudah pantang menyerah, dia terus berlatih dan berlatih dan jika adu gulat dengan wanita tersebut maka dia dinyatakan lulus.

500 tahun kemudian

Merasa dirinya merasa lebih baik akhirnya wanita tersebut mengajak duel dengan Nisa.

“Ayo tunjukkan kemampuanmu nak.” Sambil mengulurkan tangannya.

“Baik siap bu!!” Dengan nada semangat.

Saat duel tersebut berlangsung area tersebut terguncang akibat duel sengit itu, dan akhirnya Nisa berhasil memenangkan duel dan dinyatakan lulus. Di saat bersamaan penyihir tersebut pun datang dengan melayang.

“Wah sudah lulus nih?” Tanyanya sambil turun.

“tapi masih belum berakhir sampai sini.” Sambil tersenyum.

“Istirahatlah sepuasmu nanti panggil aku di luar.”

Nisa hanya mengangguk dan bergegas ke rumah lalu tidur selama seminggu, setelah tidur cukup lama dia sudah bersiap untuk latihan berikutnya.

Dia keluar dari kamar dan dia melihat penyihir sedang menunggunya sambil minum teh.

“Apakah dirimu sudah siap nak?” Tanyanya.

“Dengan segenap hati jiwa dan raga ini saya siap pak!” Dengan semangatnya.

Kemudian penyihir tersebut mengajak ke bawah tanah, di bawah tanah tersebut terdapat banyak buku-buku seperti perpustakaan. Dia diberitahu bahwa sang penyihir akan melihatnya sebuah sihir.

Penyihir tersebut melatih Nisa mulai dari membaca semua buku, melatih sihir dan mengembangkan sihir. Sama seperti latihan wanita pertama itu di saat Nisa menang duel maka dia dianggap lulus dan kembali ke dunia nyata nya.

500 tahun kemudian

Momen yang ditunggu akhirnya datang dan Nisa sudah siap dari segi mental dan fisik.

“Tunjukkan segala kemampuan mu nak.” Sambil menyodorkan tongkat sihirnya.

“Ya mohon bantuannya pak!”

Duel pun dimulai sekumpulan angin pun mulai membara serta kilatan cahaya akibat duel sengit tersebut. Akhirnya Nisa berhasil menang duel dan dinyatakan lulus dan boleh pulang ke dunia nyata.

“Uhuk.. selamat nak, sekarang kau bisa kembali ke dunia mu melalui portal ini.” Sambil menciptakan portal.

Wanita yang ada di samping nya pun membantu mengangkat penyihir tersebut. Perasaan Nisa mulai terasa familiar kemudian dia memeluk kedua orang tersebut sambil menangis.

“Hiks.. aku akan merindukan kalian, kalian bagaikan orang tua dari keluarga ku.” Sambil memeluk dengan erat.

“Shsh cup cup sayang, kami juga akan merindukan mu.” Ujar kedua sepasang suami-istri tersebut sambil mengelus kepalanya lalu mengecup keningnya sebagai perpisahan.

“Sebelum kamu pergi kami akan memberimu sesuatu.” Sang penyihir mengambil barang dari tas kecil yang ada di samping nya.

Kemudian penyihir itu mengeluarkan kalung dan memasangkan di leher Nisa bersimbol bulan dan bintang, di saat yang bersamaan wanita di samping penyihir itu memberikan sebuah cincin lalu memakainya di tangan kanan di jari tengah yang bersimbol matahari.

“Pergilah nak, gunakan kekuatan mu dengan penuh tanggung jawab dan untuk melindungi orang-orang.” Sang penyihir itu meninggalkan pesan sebelum Nisa masuk ke dalam portal.

Nisa hanya mengangguk dan melambaikan tangan.

*Di dunia nyata*

Nisa terbangun dari mimpinya yang panjang, dia melihat sejenak ke arah kasurnya Linda tetapi dia tidak ada. Kemudian Linda muncul menggunakan seragam sekolah.

“Heh ayo bangun dasar pemalas, udah mepet ini gua bangunin lu gak bangun-bangun.” Sambil menarik tangan Nisa.

“Emang sekarang jam berapa sih?” Tanya Nisa.

“06:40..” berbisik di telinganya.

Sontak Nisa langsung bangkit dari kasur kemudian cepat-cepat mandi lalu ganti baju dan rambut dia terlihat sedikit acak-acakan tetapi dia tidak peduli, kemudian mereka berdua pun berangkat ke area tes tersebut.

Semua siswa-siswi berkumpul di lapangan dan sudah disediakan sebuah batu besar untuk menghitung perkiraan kekuatan, di dampingi oleh guru bernama Alex Leonheart dan Arabelle Vistova untuk menilai tes.

Semua siswa-siswi menunjukkan performa yang luar biasa terutama pada Linda dan Faris, giliran Nisa dipanggil semua siswa-siswi berbisik-bisik mengenai dia.

“Eh itu murid yang kemarin nggak sih?”

“Kenapa dia ada disini?”

Nisa tidak memperdulikan bisikan tersebut dan tetap maju, saat dia menyodorkan tongkat nya dia menggunakan kekuatan sihirnya tanpa rapalan.

*Whoom* *swoosh* *whamm!*

Suara tersebut mengguncangkan area pelatihan dan dia menghancurkan batunya yang dilapisi beberapa lapisan sihir yang hampir para murid bahkan guru pun tidak bisa menghancurkannya. Semua murid-murid serta guru kaget dan kebingungan dengan hasilnya.

“Ba-bagaimana dia bisa melakukannya…” Gumam Faris dengan tangan bergetar.

“Wah hebat juga lu Nis.” Linda menghampirinya sambil menepuk bahunya.

Para guru langsung membubarkan para murid-murid dari keributan terjadi lalu menyuruh mereka semua kembali ke aula dan akan mempublikasikan hasilnya nanti sore.

*Di sore hari*

Saat sore tiba Nisa melihat banyak siswa-siswi berkumpul ke depan asrama untuk melihat hasil tes tadi melalui papan mading, saat Nisa sampai di sana bersama Linda mereka terkejut melihat hasilnya. Peringkat pertama diduduki oleh Nisa, kedua Faris dan ketiga Linda.

Salah satu siswi menoleh belakang ke arah Nisa dan memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal.

“Loh kamu siswi yang dimaksud itu??” Sambil menunjuk dan semua orang disekitarnya menoleh ke arah Nisa.

“Beneran kamu Nisa?!!”

“Eh ajarin gua dong.”

Banyak orang yang bertanya-tanya mengenai dirinya dan di situlah Nisa punya banyak teman, kecuali Faris, karena dia merasa iri dan dengki dengan dia.

Keesokan harinya seluruh siswa-siswi berkumpul di arena untuk mengetes masing-masing kekuatan mereka dan kerja sama, para siswa-siswi dibagi menjadi beberapa kelompok, 1 kelompok terdiri 2 orang. Pertarungan mereka berlangsung sangat hebat hingga ke babak Final.

Di babak Final terdapat 1 kelompok yaitu Nisa dan Linda, melawan hanya seorang Faris karena dia yang meminta untuk bertarung sendiri. Saat pertarungan dimulai awan dan langit tiba-tiba menjadi gelap gulita disertai angin dan petir yang bergemuruh.

Semua orang bergegas untuk evakuasi kecuali Nisa dan Linda karena mereka seperti di bawa ke dimensi lain jadi mereka hilang di arena beserta Faris, mereka dibawa ke dimensi yang ada pulau terapung.

“Nis.. dimana kita ini.” Gelisah Linda.

“Gua juga gak tahu.” Jawab Nisa.

Mereka melewati hutan yang lebat lalu menemukan area yang lapang dan terlihat sosok bertanduk dan bersayap.

“Siapa kau!!” Teriak Linda.

Makhluk itu hanya diam dan memanggil sekumpulan berbagai monster mulai dari goblin, orc, ogre, serpent, hydra hingga naga. Nisa dan Linda berhasil mengalahkan semua monster, lalu makhluk itu turun tangan dan dia mengeluarkan sebuah pedang.

“Maaf Nis.. mana gua habis..” Linda kelelahan akibat penggunaan mana berlebihan.

“Iya gakpapa, biar gua yang urusin sekarang.” Sambil menggendong nya dan menaruhnya ke belakang pohon.

“Maaf ya Nis uhuk..”

Nisa hanya mengangguk dan memasangkan Barrier kepadanya untuk melindungi nya, setelah itu dia kembali ke tempat makhluk itu. Saat dia kembali sosok makhluk itu tidak ada dan tiba-tiba menyergap Nisa dari belakang, Nisa pun langsung menghindarinya dan dia menyerang balik.

*Sing* *ctar* *blar* *swoosh* *whack!* *Duar!*

Pertarungan sengit tersebut mengguncangkan dunia tersebut, setelah itu sosok tersebut menerima luka parah sementara Nisa tidak menerima luka sama sekali.

Tiba-tiba makhluk itu menyerap energi kehidupan di dunia itu, pelan-pelan pulau tersebut runtuh dan tidak lama lagi sosok tersebut langsung menembakkan laser hasil penyerapannya.

Namun tiba-tiba…

“BLACK HOLE.” Nisa menyerap serangan lalu mengembalikannya.

Setelah sosok tersebut terkena serangan dan serangan itu berakhir Nisa dengan cepat menghampirinya, setelah itu dia menceletuk kepalanya untuk menunjukkan dirinya. Tidak disangka sosok tersebut adalah Faris.

Pulau tersebut mulai runtuh lalu Nisa bergegas membawa mereka berdua ke dunia asal.

*Cling*

Awan dan badai di arena pun berakhir bersamaan dengan Nisa, Linda dan Faris. Para siswa-siswi dan guru kembali ke arena untuk mengecek keadaan, mereka melihat Linda terduduk lemas dan Nisa sedang menggendong Faris ala Bridal style.

Semua orang pun menghampiri mereka.

“Apa yang terjadi sebenarnya Nisa?” Tanya pak Ainz.

Nisa pun menceritakan kejadian yang ia alami, tetapi tidak menceritakan ini perbuatan Faris melainkan iblis. Luka Faris masih kelihatan Nisa memberitahu kalau dia menerima serangan dari iblis dan tidak sempat membantunya.

“HEAL, REFRESH MANA.” Nisa memulihkan Linda dan Faris.

Pelan-pelan mata Faris terbuka.

“Mhmm.. tunggu, MAU NGAPAIN LO?? LEPAS KAGAK.” Bentak ke Nisa.

*Brak!*

“Ouch.. sakit tau!”

“Lah katanya lepasin yaudah la wlee.” Ledeknya sambil menjulurkan lidah.

Semua orang hanya tertawa melihat mereka berdua, tiba-tiba kalung dan cincin yang dipakai Nisa bercahaya. Semua orang terpesona melihat cahaya indah dari kalung dan cincin tersebut.

“Oh jadi kau sudah mendapatkannya nak?”

Muncul seorang neneknya Nisa yang keluar dari kerumunan banyak orang, dia menjelaskan bahwa kalung dan cincin tersebut merupakan peninggalan kedua orangtuanya dan dia berhak mendapatkan warisan kekuatan nya, dan dia mendapatkan gelar ‘The Ancient Witch ‘ karena ayahnya lah sang ‘The Ancient Wizard ‘ itu.

Semua orang menundukkan kepala mereka sebagai rasa hormat, terkecuali sang nenek, Linda dan Faris (karena mereka masih lemas).

“T-tolong angkat kepala kalian ini terlalu berlebihan..” Ujar Nisa sambil gugup.

Semuanya pun bangkit, lalu Nisa punya satu permintaan yaitu dia hanya mau diperlakukan seperti murid biasa dan mendapatkan pendidikan yang pantas bagi dirinya dan murid-murid lain. “Baiklah.” Seru pak Ainz sebagai mewakili semua guru.

Semua orang pun mengucapkan terimakasih dan tersenyum, lalu meninggalkan mereka bertiga terutama sang nenek. Faris pun bangun.

“Ummm… Anu.. maaf ya Nis gua cuma iri sama lu dan membuat kekacauan ini.” Dengan rasa menyesal.

“Iya gua maafin.” Sambil mengulurkan tangan.

“Tapi janji ya gak boleh dendam?” Tanya Nisa.

“Umm.. baik!” Sambil menjabat tangannya Nisa.

“Btw boleh ajarin aku nggak?”

Nisa hanya mengangguk saja dan ekspresi Faris senang dan tersenyum kepadanya.

“Mmm.. ketinggalan apa gua nih.” Linda terbangun dan bangkit sambil mengusap matanya.

Nisa dan Faris melihat Linda bagaikan koala baru bangun dan mereka hanya tertawa.

“Ha-ha-ha.”

“Apa yang lucu? Ceritakan semuanya woi!” Seru Linda.

“Ceritanya panjang nanti aja Lin, btw ayo semuanya nungguin di luar tuh.” Sambil menarik tangan mereka berdua.

“Apa-apaan sih sebenernya.” Gumam Linda dengan pasrah.

Dan disitulah Nisa bertambah teman baru Faris. Hari telah berlalu mereka selalu meluangkan waktu untuk bersenang-senang, bermain, bahkan makan pun selalu bersama tetapi kalau tidur tidak karena itu melanggar peraturan asrama.

Nisa merasa senang mendapatkan banyak teman baru di sekolahnya terutama Faris dan menjalani kehidupannya sebagai murid di sekolahnya.

Di malam hari sebelum tidur

“Ayah ibu terimakasih sudah merawat Nisa sampai sekarang, akan ku kenang pemberian kalian ini.” Sambil menyentuh barang pemberian orang tuanya dan menciumnya.

Dia pun langsung tidur.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait