Kepanjen – Suasana ceria dan penuh interaksi mewarnai jam pelajaran Bahasa Inggris di SMK Cendika Bangsa Kepanjen pada Jumat pekan lalu. Sebanyak dua kelas, yakni siswa kelas XI Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TKJ), berkesempatan langka untuk menguji kemampuan berbahasa Inggris mereka secara langsung bersama seorang native speaker yang inspiratif, Fara Saeed, dari Lahore, Pakistan.
Kegiatan belajar interaktif ini digelar sebagai upaya sekolah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi berbahasa Inggris siswa. Belajar dengan native speaker terbukti menjadi metode efektif untuk mengukur kemampuan nyata, menambah rasa percaya diri, membiasakan diri berbicara Bahasa Inggris, sekaligus membuka wawasan tentang budaya berbeda.
Fara Saeed, Sosok Inspiratif dari Negeri Seribu Budaya
Fara Saeed, yang saat ini menempuh pendidikan S3 di Universitas Negeri Malang dan memiliki latar belakang mumpuni di bidang Teaching English as a Foreign Language (TEFL), didapuk menjadi pemateri. Kehadirannya disambut antusias oleh siswa, meskipun pada awalnya terselip rasa malu dan kurang percaya diri untuk memulai percakapan.
Didampingi oleh guru Bahasa Inggris, Bapak Hubaibu Amri di kelas XI DKV dan Ibu Mila Kholifa di kelas XI TKJ, Fara Saeed membuka sesi dengan sapaan hangat dan pertanyaan seputar kabar serta perjalanan belajar Bahasa Inggris siswa.
Jelajah Budaya Pakistan, dari Baju hingga Makanan Favorit
Menggunakan presentasi visual, Fara Saeed membawa siswa menjelajahi keindahan dan keragaman Pakistan. Mulai dari pakaian tradisional yang penuh warna, aneka ragam makanan khas, perayaan hari raya keagamaan, hingga sistem pendidikan di negaranya, semua dipaparkan dengan menarik.
Sesi tanya jawab menjadi puncak keseruan. Meskipun awalnya canggung, motivasi dari guru pendamping membuat siswa DKV memberanikan diri. Antusiasme semakin memuncak di sesi kelas XI TKJ. Para siswa terlihat lebih berani berdiskusi dan melontarkan pertanyaan dalam Bahasa Inggris, bahkan hingga memancing tawa dari sang narasumber.
Bakso, Pemersatu Lidah Indonesia-Pakistan
Salah satu momen paling menarik terjadi saat seorang siswa bertanya mengenai makanan favorit Fara Saeed. Dengan santai, ia menjawab, “Bakso.” Jawaban ini spontan disambut tepuk tangan meriah dari siswa, karena bakso juga merupakan makanan favorit warga Malang pada umumnya. Momen sederhana ini menunjukkan bahwa komunikasi lintas budaya dapat terjalin akrab melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan lain yang diajukan siswa meliputi berapa lama Fara di Indonesia dan alasannya memilih Indonesia. Bahkan, ada pertanyaan jenaka dari seorang siswa yang berani bertanya, “Are you single?” yang dijawab dengan tawa dan anggukan oleh Fara, bahkan disusul ajakan ramah untuk berkunjung ke tempatnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik motivasi bagi seluruh siswa SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Pembelajaran interaktif semacam ini membuktikan bahwa Bahasa Inggris tidak hanya sekadar mata pelajaran, tetapi juga kunci untuk membuka jendela dunia dan menjalin komunikasi yang menyenangkan dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. [Niswa]


